Perjalan Menuju Purworejo

 

Assalamualikum warohmatullah wabarokaatuh..

Kaifa khaaluk?

Bagaimana kabarnya teman-teman? semoga selalu dilindungaNya Allah Ta’ala.

Kembali lagi dengan saya, Luqman Hakim sang penggapai mimpi. Saya sangat berharap dengan belajar menulis, tergapailah harapan-harapan dimasa depan.

Orang tidur dihadapkan dua pilihan. Bangun melanjutkan mimpi atau bangun mewujudkan mimpi.

Tak ada kesuksesan tanpa usaha. Yang terpenting bagi saya usaha lalu disertai dengan do’a. Hasil terserah sang Maha Kuasa.

Undangan..

Jodoh itu sebuah taqdir sang Ilahi. Semuanya sudah ada yang mengatur.

Tiba-tiba di meja saya tergeletak sebuah undangan. Apa lagi kalau bukan undangan pernikahan. Rasa senang meliputi diri saya.

Senang karena sekian lama menjomblo akhirnya bisa menemukan sang dambaan hati. Dia adalah teman mengajar waktu  saya masih  disebuah lembaga islam Jogjakarta. Sama-sama teman perantauan, dia asal pacitan.

Subhanallah diusia masih bisa dibilang sangat muda, dia memberanikan diri untuk menyempurnakan agama.

Ikan berada di air, padi berada di sawah, tapi bisa bertemu disebuah piring. Begitu pula dengan jodoh. Sebuah qodarullah yang wajib dijalani.

Alhamdulillah undangan kali ini di Daerah Purworejo. Lumayan buat pengalaman karena ini adalah pertama kalinya perjalanan ke Purworejo.

Persiapan ..

Tanpa disadari waktu terus berputar dengan cepat.

Hari demi hari telah berlalu. Hari sabtu besok sudah tiba saatnya berangkat memenuhi undangan teman.

Seperti biasa, agenda hari sabtu di tempat saya mengajar dulu adalah taklim. kegiatan rutin yang wajib dihadiri oleh para asatidzah.

SDIT Jabal Nur Gamping kini tinggal kenangan yang tersimpan. Satu tahun lebih tiga bulan saya membersamai anak-anak. Saya memberanikan diri untuk Out demi melanjutkan perjuangan mencari ilmu.

Setelah usai taklim pagi, kira-kira jam 09.30 WIB, saya dan asatidzah segera menuju tempat walimah.

Satu unit mobil sudah siap tancap gas ke Purworejo. Saya pribadi dan beberapa asatidz memilih naik kendaraan saja.

Perjalanan…

Perjalanan kali ini dibagi menjadi dua rombongan. Rombongan pertama mengendarai mobil, sedangkan saya dan beberapa astidz pilih naik kendaraan.

Alasan saya memilih naik motor agar nanti waktu pulang bisa mampir dulu ke tempat wisata.

Setelah berdiskusi dengan asatidz lainya, rombongan motor ijin berangkat duluan. Beruntung sekali ada teman yang sudah pernah bepergian ke Purworejo. Akhirnya dia pun dipilih menjadi petunjuk jalan.

Rombongan motor berjumlah tujuh orang. Bismillah tawakkaltu ala Allah, semua kendaraan sudah dipastikan aman, Berangkattt!.

Naik turun..

Ternyata akses jalan menuju tempat walimah sungguh meneganggkan. Berkelak-kelok naik turun saya lalui.

My trip My adventure.

Pemandangan di sepanjang jalan menuju lokasi sangat indah dan mempesosa. Pepohonan yang rindang, semilir angin sepoi-sepoi membuat saya terkantuk-kantuk. Waktu itu saya memboncengkan teman, karena jalan yang menanjak, Akhirnya motor tidak kuat.

Dari pada motor rusak, saya menyuruh teman untuk turun jalan kaki. Beruntung sekali pada saat itu ada orang desa lewat, akhirnya temen saya diboncengkan sampai atas sana.

“Terima kasih bapak atas bantuanya”

“Iya mas, sama-sama. Disini memang jalanya sangat menanjak. Harap hati-hati dan kondisikan motor dalam keadaan gigi satu.

Setelah mengucapkan terima kasih, perjalan pun dilanjutkan. Ditengah-tengah perjalanan saya kok merasakan sesuatu yang mengganjal. Betul juga, ternyata ban motor saya gembos.

Agar tidak terjadi yang nggak diinginkan, saya pun mampir ke bengkel sejenak untuk menambah angin ban.

Selang beberapa menit dan melewati jalan pintas, rombongan motor pun tiba di lokasi.

Resepsi..

 

Tepat kira-kira jam 12.00 siang rombangan motor tiba di lokasi.

Para tamu undangan sudah pada hadir. Saya dan teman-teman memutuskan untuk mampir ke musholla sejenak sambil menunggu rombongan mobil. Jarak antara musholla dan tempat resepsi sangat dekat, jadi saya bisa melihat apakah rombongan mobil sudah datang atau belum?.

“Yuk kita masuk dulu aja, kelamaan kalau nunggu.” ujar salah satu senior saya.

“Siap ustadz”

Saya dan teman-teman pun masuk dan menyalami para among tamu.

Rupanya teman yang mau nikah sudah menunggu kehadiran astidz Jabal Nur. Satu-satu saya dan teman-teman menyalami dan mendo’akan.

“Barokallahu laka wabaroka a’laika wajama’a bainakumaa fie khoir ustadz, moga sakiinah mawaddah warohmah”.

“Amiien, makasih do’anya, moga kamu juga bisa cepet menyusul” jawab dia sambil senyum bahagia.

Hari semakin sore takut nanti pulang kemaleman, senior saya memberanikan diri untuk  ijin pamit pulang.

OTW pulang..

Agenda selanjutnya setelah dari Purworeja adalah rihlah ke tempat wisata. Saya dan teman-teman pun belum merencanakan tempat mana yang akan dituju.

Agenda ini diniatkan semata-mata untuk tadabbur alam. Sebagai wujud syukur kepada sang pencipta alam semesta.

Bahwa Allah yang menciptakan alam semesta ini. Dialah yang berhak satu-satunya yang wajib kita ibadahi, dan tidak ada sekutu bagiNya.

“Bagaimana nih?.. jadinya mau mampir wisata mana?.

“Sambil jalan dulu aja, ntar pasti dapat”.

Roda terus berputar, sementara perjalanan masih panjang. Terik panas matahari membakar kulit sawo matang. Perjalanan Purworejo menuju Jogja memakan waktu dua jam.

Mampir Masjid Agung..

 

 

 

Dari kejauahan terlihat megahnya masjid Agung Purworejo Jawa Tengah. Saya dan teman-teman pun berinisiatif untuk mampir sejenak. Disela-sela istirahat, teman saya browshing tempat wisata Daerah Purworejo.

“Ini teman-teman, saya dapat tempat yang bagus. Wisata Pantai Kadilangu Mangrove”

“Tempatnya dimana?. Jauh nggak dari sini?”.

“Nggak kok. Kebetulan wisata ini satu jalur menuju Jogja yaitu berada di Kulon Progo.

“Syukurlah kalau gitu, bisa menghemat waktu”.

Setelah istirahat, Saya dan teman-teman bergegas OTW pantai  Mangrove.

Nasib apes..

Mak trataaaap.. Tiba-tiba hati saya dag dig dug.

Tepat di tikungan setelah jembatan penghubung ternyata ada razia polisi. Saya sudah menduga, kok ramai-ramai ada apa? ternyata betul dugaaan saya.

“priiit…priiit!! bisa saya lihat SIM dan STNKnya”

“Wah, maaf pakk, saya belum punya SIM”.

Beberapa menit saya beradu argumen dengan pak polisi tetap saja ditilang. Saya hanya bisa pasrah dan agak emosi hhehe.

Surat cinta dari pak polisi warna biru diserahkan pada saya. Pak polisi menyita STNK saya, dan sepekan yang akan datang harus kembali lagi ke Purworejo untuk menghadiri sidang.

Ah, sudahlah mungkin ini yang terbaik dan pasti ada hikmahnya. Emang betul, setelah kejadian ini, saya diberi rizqi oleh Allah untuk membuat SIM. Indahnya berbaik sangka dalam semua keadaan.

Pantai Pasir Kadilangu Mangrove Kulon Progo..

 

Jogja memang terkenal wisatanya dari pantai, candi. bukit dan sebagainya. Pantai Pasir Kadilangu salah satu pantai yang terpopuler.

Banyak wisatawan dari belahan bumi yang berkunjung di tempat ini. Terlebih bagi para pemuda, nggak keren kalau belum pernah ke pantai Kadilangu.

Meskipun namanya Pantai Pasir namun tidak dapat bermain pasir layaknya pantai Parangtritis atau Pantai Gumuk Pasir. Pantai Pasir Kadilangu merupakan pantai dengan hamparan hutan mangrove di sepanjang tepi pantai, udaranya yang sejuk dengan hijaunya hutan mangrove menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi tempat wisata ini. Selain menikmati hutan di atas air laut, tersedia spot-spot untuk berteduh dan foto bersama teman atau keluarga.

Moment yang sangat tepat, saya dan teman-teman berhasil mengabadikan poto sunris di pantai Kadilangu. Waktu menunjukan pukul enam malam, saya dan teman-teman bergegas pulang.

Alhamdulillah sampai Jogja dengan selamat tanpa kendala. Rasa capek, kesal terbayar sudah dengan keindahan Pantai Pasir Kadilangu.

Sampai sini dulu ya teman-teman, jangan lupa kasih koreksi dan masukan. Kedepanya agar menjadi lebih baik. Jazakumullah khoiron makasih banyak.

Wassalamualaikum warohmatullah wabarokaatuh.

 

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: